Kamis, 02 Januari 2014

Kala Soekarno Bertemu Prof. Tjip

senja itu, angin berhembus laksana hujan mengguyur tanah dimusim kemarau, kegerahan telah berganti dengan kesejukan nan menyegarkan, dihamparan bukit yg disulap menjadi taman firdaus, di kelilingin barisan bukit yg terpisah oleh ngarai-ngarai yg dalam. angin menerpa dedaunan, menimbulkan suara desiran yg mendamaikan. sesekali, pohon yg diterpa angin bergoyang pelan, seakan-akan berdansa mengikuti alunan angin yg pelan. di taman tersebut, berjejer bangku-bangku taman yg sengaja di letakkan di bawah pohon jambu, dua orang pasangan beda kelamin, sore itu, sedang menikmati hembusan angin dan hangatnya matahari senja yg beranjak untuk tenggelam, sang pria membelai rambut si wanita dan sesekali membersihkan rontokan bunga jambu yg berjatuhan dan bersarang di atas rambut si wanita tersebut, sedangkan sang wanita menyelipkan temiti dibaju sang pria yg terbuka karena kancingnya sudah hilang entah kemana.
dari kejauhan, sesosok pria tua berjalan dengan santai berpandukan tongkat rotan, sesosok pria sepuh yg terlihat bijaksana, dengan rambut putih dan jenggot sudah memutih, menandakan luapan pengalaman hidup dan ketinggian pengetahuannya, sosok pria sepuh tersebut berjalan mendekati pasangan tersebut sembari sesekali menghisap pipa tembakaunya. pasangan tersebut tidak menyadari kedatangan pria sepuh tersebut dan tak disangka sudah berjarak 1/2 meter dibelakangnya, pria sepuh tersebut dengan cepat mengayunkan tongkat rotanya dikepala sang pria yg mengenakan peci hitam....
"Pletak", betapa kagetnya pria tersebut mendapat serangan dari belakang dan tepat mengenai ubun-ubunya yg untungnya terlindungi oleh peci hitam kesukaannya. sambil merapikan letak pecinya yg peyok akibat hantaman rotan tersebut, sang pria tersebut berdiri sambil misuh-misuh.
Pria berpeci: "wassu, djuancooek, sopo mau" pisuh pria tersebut dengan suara cempreng.
pria sepuh : "rak ng kono, rak ning kene pacaran ae". sedangkan sang wanita lari terbirit-birit sambil menutupi wajahnya, takut dikenali oleh pria sepuh tadi.
pria berpeci : "sopo koen ?" tanya pria tersebut
pria sepuh : " kamu Soekarno kan ? balik bertanya
pria tersebut ternyata Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia
sembari masih penasaran dengan pria sepuh yg menyerangnya, ia bertanya dengan nada penasaran: "lha kamu siapa ?"
sang pria sepuh tersebut menimpali : "aku Prof. Tjip, guru besar sosiologi hukum". sambil berjalan menuju kursi yg sudah kosong tersebut dan duduk dengan santai.
"ooowwwh, inggih prof. ngapunten wau sampun misuhi jenengan,.dos pundi prof ? " jawab Soekarno dengan nada takzim, dan ia duduk berjongkok diatas tanah
"rak popo le, pancen cangkemu kwi wes yusak" ejek prof. Tjip yg ditanggapi senyuman malu dari Seokarno. "kemarin saya ketemu Prof Soepomo, di rumahnya Tan Malaka, pas ngambil celana Jeans yg pengen aku permak, karena terlalu besar, Prof. Pomo ngomong, katanya kamu bilang kalau sarjana hukum tidak bisa diajak revolusi, apa benar demikian ?". selidik prof. Tjip.
"Leres Prof, " jawab Soekarno. "sarjana hukum diawal-awal kemerdekaan belum berani untuk melakukan langkah-langkah progresif untuk mengganti sistem hukum kolonial, mereka belum bisa meninggalkan tradisi hukum kolonial yg sangat diskriminatif bagi bangsa ini dengan membagi-bagi golongan2 di bumi nusantara ini. sebelum kemerdekaan saja, banyak pakar hukum dinegeri belanda sendiri menentang unifikasi hukum di hindia belanda, van vallenhoven dan ter hart menyerang gagasan dari nederburg untuk memberlakukan undang-undang yg ada di belanda bagi masyarakat hidia belanda, mereka meyakini bahwa hukum belanda tidak bisa diterapkan begitu saja dinegeri jajahan karena mereka memiliki tradisi hukum tak tertulis".
Prof. Tjip mengehela nafas sebentar, "bener juga omonganya le". sambil merapikan posisi duduknya dan meletakkan tongkat rotanya di sisi kiri. lalu meneruskan ucapanya. "saya bisa memahami mengapa mereka berpikir demikian, karena mereka semua merupakan didikan fakultas hukum negeri belanda, konsepsi hukum yg mereka pelajari dan pahami adalah konsepsi sistem hukum belanda, jadi wajar saja kalau mereka berpikir seperti itu, cuman apabila mereka sedikit mau belajar tentang apa itu hukum, mereka pasti akan mengerti, bahwa hukum tidak saja dijalankan dengan apa adanya, namun harus mengandung muatan ideologis sebagai suatu bangsa yg merdeka". prof. Tjip berhenti sejenak untuk menghisap pipa tembakau yg sudah mulai akan padam tersebut, menghisapnya beberapa kali agar bara api dalam tembakau tetap menyala, lalu menghembuskan asapnya ke atas sambil menatap langit sore yg sudah mulai gelap.
"asal kmu tau aja le, tahun2 selanjutnya, saya mengajarkan kepada sarjana hukum untuk memahami hukum bukan sebagai teks semata, namun juga sebagai perilaku, hukum seyogyanya merupakan konkretasi dari nilai-nilai yg hidup dalam masyarakat. tahun 2002 saya mulai menggagas hukum progresif, gagasan ini memang belum final, dan saya memang sengaja membuatnya demikian agar hukum kedepannya akan selalu berproses untuk menjadi, mengikut sertakan dinamika dalam masyarakat, agar hukum dalam bentuk produk perundang-undangan tidak tertatih-tatih atau tertinggal oleh dinamika yg terjadi dimasyarakat".
dengan muka yg akan kurang paham, Soekarno berucap, "ooowwhh, gitu ya prof?". memaksa untuk memahami perkataan Prof. Tjip. "berarti, ungkapan saya bahwa sarjana hukum tidak bisa diajak revolusi itu ada perkecualiannya, yaitu para sarjana hukum progresif yg menjalankan gagasan-gagasan jenengan" kata Soekarno.
"kurang lebih begitu No" jawab Prof. Tjip dengan tersenyum.
"berarti saya harus merevisi perkataan saya ditahun 1960-an itu prof ?" tanya Soekarno.
"betul No, saya sarankan kamu segera turun kebumi untuk merevisi pernyataanmu itu, agar para sarjana hukum memiliki keberanian untuk melakukan langkah-langkah progresif". timpal Prof. Tjip.
"biar lebih mudah, kamu temui temen2 Tjipian di Semarang. koordinasi dlu dengan sy salam, dia yg biasa sering diskusi disana. add aja FB-nya," perintah Prof. TJip.
"nickname FB-nya apa Prof ? " tanya Soekarno
"sy salam, klo ga salah".
"siap prof" jawab Soekarno sambil mengeluarkan hp cross-nya.
Soekarno lalu membuka FB dan mengetik nama sy salam di search enggine yg ada di laman facebook. beberapa detik kemudian, muncullah satu satunya list nama sy salam dengan foto seorang anak muda ganteng sedang naik vespa. Soekarno memencet tombol "add" di hp cross-nya yg sudah touchscreen itu.
"wes, ngunu ndisik yo le, aku tak balik omah, mau baca-baca dlu, lagian hari sudah mulai gelap" ucap prof Tjip sambil beranjak dari kursi taman
Inggih Prof, sudah saya add tadi prof, klo sudah diconfrim, segera saya akan turun ke bumi untuk nemuin dia" jawab Soekarno sambil nguluk salam ke prof. Tjip dan mencium tanganya.
Prof. Tjip meninggalkan Soekarno yg masih berdiri menatap kepergianya, peristiwa ini tidak disangka oleh mereka berdua, telah di amati oleh sesosok pria bule berkaca mata dari dunia bawah.
selang beberapa menit, terdengar bunyi lagu Koes Ploes yg bersumber dari hp Soekarno, lalu ia menatap ke layar hp berukuran 4inc tersebut, dengan wajah sumringan, barusan ia mendapat notifikasi klo sy salam telah mengkonfirmasi pertemanan.

BERSAMBUNG.......







Tidak ada komentar: